Rangkuman Kimia POLIMER (Pengertian, Sifat, Klasifikasi, Struktur, Pembentukan, Tatanama dan Manfaat Polimer Beserta Contohnya)

Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbaru yaitu tentang rangkuman materi polimer, adapun yang akan kita bahas mengenai pengertian polimer, sifat, perbedaan sifat sifat polimer, klasifikasi, struktur, pembentukan, tata nama dan manfaat polimer. Semoga dapat membantu

Polimer

Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbaru yaitu tentang rangkuman materi polimer, adapun yang akan kita bahas mengenai pengertian polimer, sifat, perbedaan sifat sifat polimer, klasifikasi, struktur, pembentukan, tata nama dan manfaat polimer.

Pengertian Polimer

Pengertian polimer adalah suatu makromolekul atau molekul raksasa yang tersusun atas beberapa monomer (molekul-molukul kecil yang sederhana). Molekul kecil atau monomer yang menyusun polimer dapat berupa senyawa berikatan rangkap maupun senyawa yang memiliki gugus fungsional.

Sifat Sifat Polimer

Polimer merupakan makromolekul yang terdiri atas banyak kelas material alami dan sintetik dan memiliki sifat yang berbeda beda. Perbedaan kedua material tersebut terletak pada mudah tidaknya sebuah polimer didegradasi atau dirombak oleh mikroba.
Berikut adalah perbedaan sifat sifat yang dipengaruhi oleh struktur polimernya, antara lain:
  • Panjang Rantai Polimer
    Semakin panjang rantai polimer, maka kekuatan dan titik leleh senyawanya semakin tinggi.
  • Gaya Antar Molekul
    Semakin besar gaya antar molekul pada rantai polimer maka polimer akan menjadi kuat dan sukar (sulit) meleleh.
  • Percabangan
    Rantai polimer yang bercabang banyak memiliki daya tegang rendah dan mudah meleleh.
  • Ikatan Silang Antar Rantai Polimer
    Semakin banyaknya ikatan silang maka polimer semakin kaku dan rapuh sehingga mudah patah. Hal tersebut dikarenakan Ikatan silang antar rantai polimer menyebabkan terjadinya jaringan yang kaku dan membentuk bahan yang keras.
  • Sifat Kristalinitas rantai polimer
    Semakin tinggi sifat kristalinitas, rantai polimer akan lebih kuat dan lebih tahan terhadap bahaan-bahan kimia dan enzim. Biasanya yang memiliki sifat kristalinitas tinggi adalah polimer dengan struktur teratur, sedangkan polimer berstruktur tidak teratur cenderung memiliki kristanilitas rendah dan bersifat amorf (tidak keras).

Sifat Polimer

Secara umum polimer memiliki sifat sifat sebagai berikut:
  • Sifat Termal
Polimer sebagai isolator memiliki sifat termal yang baik meskipun polimer bukan merupakan konduktor. Jika ditinjau dari jenisnya, polimer yang dipanaskan ada yang menjadi lunak namun ada juga yang menjadi keras. Perubahan ini penting untuk bahan komponen tertentu.
  • Sifat Kelenturan
Karena bersifat lentur, polimer mudah diolah menjadi produk yang diinginkan. Namun, polimer alam lebih diolah sesuai dengan keinginan dibandingkan polimer sintetis.
  • Sifat Ketahanan Terhadap Organisme
Sifat ini biasanya dimiliki oleh polimer sintetis. Sedangkan polimer alam seperti sutra, wol, dan polimer alam lainnya tidak tahan terhadap mikroorganisme.
Lalu Polimer juga bersifat Ringan, Tahan terhadap Korosi dan Dimensinya Stabil

Klasifikasi dan Struktur Polimer

Struktur polimer dapat dibedakan berdasarkan penggolongannya. Penggolongan polimer terdiri dari:

1. Berdasarkan Asalnya

Polimer berdasarkan asalnya dibedakan menjadi 2 yaitu dari alam dan sintetik
  • Polimer alam adalah senyawa yang jumlahnya terbatas dan dihasilkan dari proses metabolisme mahluk hidup. Polimer alam bersifat kurang stabil, mudah menyerap air, tidak stabil karena pemanasan dan sukar dibentuk.
    Contohnya dapat berupa protein, amilum, glikogen, selulosa, karet alam (poliisoprena), asam nukleat.
  • Polimer sintetik adalah polimer yang tidak terdapat di alam, tetapi disintesis dari monomer-monomernya. Polimer ini sengaja dibuat  di  untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier manusia.
    Contoh polimer sintetik berupa polietena, polivinilklorida, polipropilena, tetrafloroetilena.

2. Berdasarkan Jenis Monomernya

Berdasarkan jenis monomernya, polimer dibedakan menjadi dua macam yaitu:
  • Monopolimer
Monopolimer adalah polimer yang terdiri dari monomer-monomer sejenis dengan struktur A – A – A – A – A.
Contohnya dapt berupa polietilena, polistirena, polipropilena, PVC, amilum, teflon, selulosa dan poliisoprena.
  • Kopolimer
Kopolimer adalah polimer yang terdiri dari dua atau lebih monomer yang tidak sejenis dengan struktur A – B – A – B – A – B. Polimer jenis ini sendiri terdiri atas 4 jenis, yaitu:
  1. Kopolimer bergantian adalah kopolimer yang memiliki beberapa kesatuan ulang yang berbeda berselang-seling adanya dalam rantai polimer. Strukturnya meliputi A-B-A-B-A.
  2. Kopolimer balok adalah kopolimer yang memiliki suatu kesatuan berulang berselang-seling dengan kesatuan berulang lainnya dalam rantai polimer. Strukturnya berupa A-A-AA-B-B-B-B-A-A-A-A.
  3. Kopolimer tidak beraturan adalahpolimer dengan jumlah satuan berulang yang berbeda dan tersusunsecara acak dalam rantai polimer. Strukturnya berupa A-B-A-A-B-B-A-A.
  4. Kopolimer tempel atau grafit adalah kopolimer yang memiliki satu macam kesatuan berulang menempel pada polimer tulang punggung lurus yang mengandung hanya satu maca kesatuan berulang dari satu jenis monomer. Strukturnya yaitu A-A-A-A-A-A.

3. Berdasarkan Sifat Kekekalannya

Berdasarkan sifat kekekalannya, polimer dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
  1. Polimer Termoplastik adalah polimer yang tidak tahan panas sehingga akan meliat jika dipanaskan dan dapat dibentuk sesuai dengan keinginan.
  2. Polimer Termoset adalah polimer tahan panas yang tidak akan meliat (melelleh) jika dipanaskan.
    Berbeda dengan polimer termoplastik, polimer ini sangah mudah dibentuk sesuai keinginan.

4. Berdasarkan Susunan Rantainya

Berdasarkan susunan rantainya, polimer dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
  1. Polimer Linier adalah polimer yang tersusun satu sama lain melalui unit ulang yang sama sehingga membentuk rantai polimer yang panjang.
    Polimer linier biasanya bersifat padat pada temperatur normal dan dapat larut dalam beberapa pelarut.
    Contohnya PVC, polietelena, nylon 66, dsb.
  2. Polimer Bercabang adalah  polimer yang terbentuk jika polimer linier membentuk cabang.
  3. Polimer Berikatan Silang (Cross-linking) adalah polimer yang terbentuk karena  beberapa  rantai polimer saling berikatan satu sama lain pada rantai utamanya. Jika sambungan silang polimer terjadi dengan ikatan kimia antara rantainya akan terbentuk sambung silang tiga dimensi yang sering disebut polimer jaringan tiga dimensi (three-dimension network).

Pembentukan Polimer

Pembentukan polimer adalah penggabungan beberapa monomer hingga terbentuk suatu molekul raksasa atau makromolekul (polimer). Reaksi pembentukan ini disebut dengan polimerasi. Berdasarkan jenis reaksi yang terjadi, polimerasi ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu Polimerasi Adhisi dan Polimerasi Kondensasi.

1. Polimerasi Adhisi

Pengertian Polimerasi adhisi adalah suatu reaksi pemebentukan polimer dengan prinsip pemutusan ikatan rangkap (tidak jenuh) diikuti oleh adhisi (penggabungan) dari monomer-monomernya yang membentuk ikatan tunggal.
Pada reaksi ini, molekul molekul H₂O atau NH₃ sebagai hasil sampingan tidak terbentuk. Pada prinsipnya, polimerasi adhisi ini melibatkan reaksi rangkap seperti berikut:
  1. Tahap Inisiasi adalah tahap pembentukan pusat-pusat aktif.
  2. Tahap Propagasi adalah tahap pembentukan rantai lewat adisi monomer secara berkelanjutan.
  3. Tahap Terminasi adalah tahap deaktivasi pusat aktif. 
Contoh polimerasi adhisi yaitu  pembentukan polietilena.
Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbaru yaitu tentang rangkuman materi polimer, adapun yang akan kita bahas mengenai pengertian polimer, sifat, perbedaan sifat sifat polimer, klasifikasi, struktur, pembentukan, tata nama dan manfaat polimer.
Sehingga dapat kita smpulkan bahwa pada reaksi adhisi, monomer-monomer yang mengandung ikatan rangkap akan bergabung, tiap monomer akan masuk ke monomer yang lain hingga membentuk rantai panjang. Produk yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi adisi mengandung semua atom dari monomer awal.

2. Polimerasi Kondensasi

Pengertian Polimerisasi kondensasi adalah reaksi pembentukan polimer dari monomer-monomer yang memiliki dua gugus fungsional baik pada monomer yang sama ataupun berbeda, ataupun monomernya mempunyai gugus fungsi -COOH,-OH,-NH2.
Apabila monomer-monomer tersebut berikatan, akan terjadi reduksi pada gugus fungsionalnya sehingga terjadi pelepasan molekul-molekul kecil seperti H₂O atau CH₃OH (metanol).
Contoh reaksi polimerasi kondensasi bisa kita pelajari pada pembentukan nylon 66 dari 1,6-diaminoheksana (heksametilen diamin) dengan asam 1,6-heksanadioat (asam adipat). Untuk lebih memahami reaksi tersebut, anda dapat perhatikan reaksi dibawah ini !
Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbaru yaitu tentang rangkuman materi polimer, adapun yang akan kita bahas mengenai pengertian polimer, sifat, perbedaan sifat sifat polimer, klasifikasi, struktur, pembentukan, tata nama dan manfaat polimer.

Tatanama Polimer

Jika kita ditinjau dari strukturnya, jumlah polimer sangat banyak. Untuk memudahkan dalam membedakan tiap-tiap polimer maka dibuatlah tata nama polimer. Tata nama polimer dibedakan menjadi 2 yaitu polimer vinil dan polimer non vinil.

Tata Nama Polimer Vinil

Tatanama polimer vinil didasarkan atas monomer (nama sumber atau umum),  taktisitas, dan isomer.
  • Monomer
Penamaan monomer satu kata yakni dengan melekatkan awalan poli- pada nama monomer. Contohnya polistirena dan polietilena.
Penamaan monomer lebih dari satu yaitu dengan didahului sebuah huruf atau angka, kemudian diikuti nama monomer yang diletakkan dalam kurung.
Contohnya poli (asam akrilat), poli(1-pentena).
  • Taksisitas
Dalam taksisitas, penamaan polimer diawali dengan huruf “i” untuk isotaktik atau “s” untuk sindiotaktik sebelum poli.
Contohnya seperti, i-polistirena (polimer polistirena dengan taktisitas isotaktik).
  • Isomer
Isomer suatu polimer dapat ditunjukkan dengan menggunakan awalan cis atau trans dan 1,2- atau 1,4- sebelum poli.
Contohnya trans-1,4-poli (1,3 butadiena).
Menurut IUPAC tatanama polimer vinil dapat diturunkan dari struktur unit dasar atau unit ulang konstitusi dan harus memenuhi tahapan berikut ini:
  1. Pengidentifikasian unit struktural terkecil (CRU).
  2. Sub unit CRU ditetapkan prioritasnya berdasarkan titik pengikatan dan ditulis prioritasnya menurun dari kiri ke kanan.
  3. Substituen-substituen diberi nomor dari kiri ke kanan.
  4. Nama CRU (diletakkan dalam kurung biasa) dan diawali dengan poli.
Berikut dibawah ini adalah contoh tabel tatanama polimer menurut IUPAC:
Nama Sumber (Monomer)
IUPAC
Polietilena
Poli(metilena)
Politetrafluoroetilena
Poli(difluorometilena)
Poli(asam akrilat)
Poli(1-karboksilatoetilena)
Poli(1-pentena)
Poli[1-(1-propil)etilena]

Tata Nama Polimer Non-Vinil

Tata nama polimer non-vinil cenderung lebih sulit. Adapun prinsip tatanama polimer non-vinil adalah polimer-polimer ini biasanya dinamai sesuai dengan monomer mula-mula.
Contonya seperti nylon, umumnya disebut nylon-6,6 dan akan lebih deskriptif disebut poli(heksametilen adipamida) yang menunjukkan poliamidasi heksametilendiamin (disebut juga 1,6-heksan diamin) dengan asam adipat.
Sedangkan untuk tatanama polimer yang diturunkan dari lebih satu jenis monomer atau dikenal dengan istilah kopolimer dinamai sesuai dengan rekomendasi dari IUPAC. Cara tersebut adaalah dengan menggabungkan istilah konektif yang ditulis miring antara nama-nama monomer yang dimasukkan dalam kurung atau antara dua atau lebih nama polimer.
Contohnya dapat dilihat dengan mengamati tabel dibawah ini!
Jenis Kopolimer
Konektif
IUPAC
Tak dikhususkan
        -co-
Poli[stirena-co-(metilmetakrilat)]
Statistik
       -stat-
Poli(stirena-stat-butadiena)
Random/acak
       -ran-
Poli[etilen-ran-(vinil asetat)
Alternating
       -alt-
Poli(stirena-alt-(maleat anhidrida)]
Alternating
      -blok-
Polistirena-blok-polibutadiena
Graft (cangkok/tempel)
     -graft-
Polibutadiena-graft-poli

Manfaat Polimer

Polimer ini sangat berguna bagi kehidupan manusia khususnya dalam kegiatan sehari hari manusia. Adapun pemanfaatan polimer diantaranya, yaitu:

1. Polietilena

Pengertian monomer polietilena adalah etilena dengan rumus kimianya CH2=CH2. Sifat polimer ini yaitu tidak berbau, tidak berwarna dan tidak beracun. Pemanfaatan polietilena dalam kehidupan sehari-hari adalah digunakan sebagai pembuatan kantong palastik dan pembungkus kabel plastik lembaran.

2. Poli Vinil chlorida (PVC)

Pengertian PVC adalah polimer yang bersifat kuat dan keras dengan monomer Vinil klorida (CH2=CHCI).
PVC dimanfaatkan dalam pembuatan pipa, pelapis lantai, dan selang.

3. Nilon

Nilon memiliki monomer berupa asam adipat dan heksametilendianima.
Nilon bersifat kuat dan elastis dan banyak digunakan dalam pembuatan jala, jas hujan, tenda, dan lainnya.

4. Polistirena

Polimer ini bersifat lebih kuat dan keras dibandingkan polimer lainnya. Monomernya ialah stirena (C6H5-CH=CH2). Polimer ini banyak dimanfaatkan dalam pembuatan gelas minuman ringan, kemasan makanan dan lainnya.

5. Serat Akrilat atau Orlon Sifat

Pengertian Serat Akrilat adalah akrilonitril (CH2=CH-CN). Karena sifat polimer ini yang elastis dan kuat sehingga banyak dimanfaatkan dalam  pembuatan baju wol, kaos kaki, karpet, dan lainnya.

6. Polipropilen

Polipropilen bersifat lebih kuat daripada polietilena. Monomer polimer ini adalah propilena (CH2=CH-CH3). Kegunaan polipropilen adalah bahan baku dalam pembuatan kantong plastik, tali, botol, dan lain sebagainya.

7. Teflon

Teflon banyak digunakan sebagai pelapis tangki di pabrik kimia, pelapis panci anti lengket, dan masih banyak lagi. Teflon bersifat kuat, tidak lengket, dan tahan panas. Monomer polimer teflon adalah tetrafloroeten (CF2=CF2).

8. Flexiglass atau Polimetilmetakrilat (PMMA)

Flexiglass bersifat bening, ringan dan keras dan banyak digunakan dalam pembuatan kaca jendela pesawat terbang, lampu belakang mobil, dan lain sebagainya. Monomer PMMA adalah metil metakrilat (CH2=CHCN).
Penggunaan polimer sintesis dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan polimer alam. Adapun polimer sintesis yang digunakan kebanyakan merupakan bahan-bahan yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Sehingga barang-barang tersebut menumpuk dalam bentuk sampah yang tidak dapat membusuk yang akibatnya dapat menyebabkan sumbatan pada saluran air yang berdampak dan memicu terjadinya banjir. Selain itu, barang-barang dengan bahan baku polimer sintesis tidak boleh dibakar karena akan menghasilkan senyawa dioksin, yaitu suatu gas beracun yang bersifat karsiogenik sehingga meningkatkan faktor resiko terjadinya kanker.

TITRASI ASAM BASA: (Pengertian, Fungsi, Tujuan, Jenis, Rumus, Perubahan pH dan Contoh Soal Titrasi Asam Basa)

Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kelas 8 kurikulum 2013 revisi 2017 2018 yaitu tentang titrasi asam basa, adapun yang akan kita bahas yaitu rangkuman pengertian titrasi, cara menentukan kadar asam cuka, fungsi, tujuan, jenis jenis titrasi, rumus, perubahan pH dan contoh soal beserta jawabannya tentang titrasi asam basa. Semoga dapat membantu

Titrasi Asam Basa

Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kelas 8 kurikulum 2013 revisi 2017 2018 yaitu tentang titrasi asam basa, adapun yang akan kita bahas yaitu rangkuman pengertian titrasi, cara menentukan kadar asam cuka, fungsi, tujuan, jenis jenis titrasi, rumus, perubahan pH dan contoh soal beserta jawabannya tentang titrasi asam basa.

Pengertian Titrasi Asam Basa

Sebelum kita bahas mengenai titrasi asam basa mari kita kebelakang terlebih dahulu, dimana sebenarnya titrasi terbagi menjadi 3 yaitu titrasi asam basa pengendapan dan redoks, nah pengertian dari titrasi sendiri adalah prosedur menetapkan kadar suatu larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain yang telah diketahui kadarnya (larutan standar) secara bertahap.
Cara menentukan kadar asam cuka, yaitu dengan metode titrasi asam basa
Pengertian titrasi asam basa adalah penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan asam yang diketahui kadarnya atau sebaliknya, kadar suatu larutan asam dengan larutan basa yang diketahui, dengan didasarkan pada reaksi netralisasi.
Titrasi harus dilakukan hingga mencapai titik ekivalen, titik ekivalen adalah keadaan di mana asam dan basa tepat habis bereaksi secara stoikiometri.
Titik ekivalen umumnya dapat ditandai dengan perubahan warna dari indikator. Keadaan dimana titrasi harus dihentikan tepat pada saat indikator menunjukkan perubahan warna disebut titik akhir titrasi. Jadi, untuk memperoleh hasil titrasi yang tepat maka selisih antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen harus diusahakan seminimal mungkin.
Hal ini dapat diupayakan dengan memilih indikator yang tepat pada saat titrasi, yakni indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen.

Fungsi Titrasi

Fungsi indikator dalam proses titrasi adalah untuk menentukan titik ekivalen ketika dua larutan telah mencapai netralisasi. Indikator sendiri dapat berupa internal maupun eksternal.
Indikator internal dicampur dengan reaktan dan biasanya menyediakan tampilan visual segera. Sedangkan indikator eksternal adalah alat elektrokimia.

Tujuan Titrasi

Tujuan melakukan titrasi asam basa adalah antara lain:
  1. Menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa dengan menggunakan titrasi asam-basa
  2. Mengetahui titik ekuivalen dan titik akhir titrasi-basa
  3. Mengetahui penetralan asam basa dengan metode titrasi

Jenis Jenis Titrasi

Seperti yang telah kita singgung diawal, titrasi terbagi menjadi 3 yaitu titrasi asam basa, titrasi pengendapan atau argentometri, dan titrasi redoks.

Titrasi Asam Basa

Titrasi asam basa yaitu penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan asam yang diketahui kadarnya atau sebaliknya, kadar suatu larutan asam dengan larutan basa yang diketahui, dengan didasarkan pada reaksi netralisasi.

Titrasi Pengendapan (argentometri)

Prinsip umumnya titrasi pengendapan adalah mengenai kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan dari reagen-reagen yang bereaksi.
Secara umum, metode titrasi argentometri terbagi menjadi tiga macam. yaitu:
  • Metode Mohr.
Pada metode ini tidak ada indikator yang digunakan. Sehingga untuk menandai titik akhir titrasi adalah tingkat kekeruhan dari larutan sampel. Ketika larutan standar telah mengalami reaksi stoikiometris dengan larutan sampel, maka ml larutan standar berikutnya yang menetes pada larutan sampel akan menghasilkan endapan karena larutan hasil reaksi titrasi telah jenuh. Namun, dapat juga digunakan indikator yang dapat bereaksi dengan kelebihan larutan standar dan membentuk endapan dengan warna yang berbeda dari endapan reaksi utama.
  • Metode Volhard.
Metode ini menggunakan indikator yang akan bereaksi dengan kelebihan larutan standar membentuk ion kompleks dengan warna tertentu.
  • Metode Fajans.
Metode ini menggunakan indikator adsorpsi. Endapan yang terbentuk dari reaksi utama dapat menyerap indikator adsorpsi pada permukaannya sehingga endapan tersebut terlihat berwarna.

Titrasi Redoks

Titrasi Redoks adalah Semula istilah “oksidasi” yang diterapkan pada reaksi suatu senyawa yang bergabung dengan oksigen dan istilah “reduksi” digunakan untuk menggambarkan reaksi dimana oksigen diambil dari suatu senyawa.

Rumus Titrasi

Rumus titrasi pada umumnya adalah Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa, maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa

Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan volume, maka rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut :
N asam x V asam = N asam x V basa

Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi :
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa)

Perubahan Ph

Pada saat larutan basa ditetesi dengan larutan asam, pH larutan akan turun dan sebaliknya, jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik.
Jika pH larutan asam atau basa diplotkan sebagai fungsi dari volum larutan basa atau asam yang diteteskan, maka akan diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi.
Kurva titrasi menunjukkan perubahan pH larutan selama proses titrasi asam dengan basa atau sebaliknya. Bentuk kurva titrasi memiliki karakteristik tertentu yang bergantung pada kekuatan dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi.

Titrasi asam kuat dengan basa kuat

Contohnya adalah, 40 mL larutan HCl 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut.
Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kelas 8 kurikulum 2013 revisi 2017 2018 yaitu tentang titrasi asam basa, adapun yang akan kita bahas yaitu rangkuman pengertian titrasi, cara menentukan kadar asam cuka, fungsi, tujuan, jenis jenis titrasi, rumus, perubahan pH dan contoh soal beserta jawabannya tentang titrasi asam basa.
Kurva titrasi asam basa: HCl dengan NaOH.
Dari kurva diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
  1. Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit
  2. Perubahan pH drastis terjadi sekitar titik ekivalen
  3. Indikator yang dapat digunakan: metil merah, bromtimol biru, atau fenolftalein. Namun, yang lebih sering digunakan adalah fenolftalein karena perubahan warna fenolftalein yang lebih mudah diamati.
  4. pH titik ekivalen = 7 (netral)

Titrasi asam lemah dengan basa kuat

Contohnya yaitu 40 mL larutan CH3COOH 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi berwarna biru yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut dibandingkan dengan kurva titrasi HCl dengan NaOH yang berwarna merah.
Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kelas 8 kurikulum 2013 revisi 2017 2018 yaitu tentang titrasi asam basa, adapun yang akan kita bahas yaitu rangkuman pengertian titrasi, cara menentukan kadar asam cuka, fungsi, tujuan, jenis jenis titrasi, rumus, perubahan pH dan contoh soal beserta jawabannya tentang titrasi asam basa.
Kurva titrasi CH3COOH dengan NaOH dan titrasi HCl dengan NaOH
Dari kurva diatas dapat kita simpulkan bahwa:
  1. Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen lebih kecil, hanya sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±10
  2. Titik ekivalen berada di atas pH 7, yaitu antara 8 – 9
  3. Indikator yang digunakan: fenolftalein. Metil merah tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh sebelum tercapai titik ekivalen.

Titrasi basa lemah dengan asam kuat

Contohnya adalah 40 mL larutan NH3 0,1 M ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut ditampilkan kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut
Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kelas 8 kurikulum 2013 revisi 2017 2018 yaitu tentang titrasi asam basa, adapun yang akan kita bahas yaitu rangkuman pengertian titrasi, cara menentukan kadar asam cuka, fungsi, tujuan, jenis jenis titrasi, rumus, perubahan pH dan contoh soal beserta jawabannya tentang titrasi asam basa.
Kurva titrasi NH3 dengan HCl
Dari kurva diatas dapat kita simpulkan, bahwa:
  1. Titik ekivalen berada di bawah pH 7, yaitu antara 5 – 6
  2. Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen hanya sedikit, sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±4
  3. Indikator yang digunakan: metil merah. Fenolftalein tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh sebelum tercapai titik ekivalen.

Pengertian LAJU & ORDE REAKSI : Rumus, Persamaan, Faktor yang mempengaruhi dan Contoh Soal Laju Reaksi

Laju Reaksi dan Orde Reaksi adalah materi pembelajaran kimia kelas 10 SMA, adapun yang akan kita bahas kali ini yaitu mengenai pengertian laju reaksi, rumus laju reaksi, persamaan laju reaksi dengan orde reaksi, faktor faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan contoh soal laju reaksi dan pembahasannya. semoga dapat membantu

Laju Reaksi

Pengertian Laju Reaksi

Pengertian Laju reaksi adalah laju penurunan reaktan (pereaksi) atau laju bertambahnya produk (hasil reaksi). Laju reaksi ini juga menggambarkan cepat lambatnya suatu reaksi kimia, sedangkan reaksi kimia merupakan proses mengubah suatu zat (pereaksi) menjadi zat baru yang disebut sebagai produk.

Rumus Laju Reaksi

Laju reaksi dapat dirumuskan secara matematis untuk memudahkan pembelajaran. Pada reaksi kimia: A → B, maka laju berubahnya zat A menjadi zat B ditentukan dari jumlah zat A yang bereaksi atau jumlah zat B yang terbentuk per satuan waktu. Pada saat pereaksi (A) berkurang, hasil reaksi (B) akan bertambah. Perhatikan diagram perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi pada Gambar berikut
A. Berdasarkan gambar diatas, maka rumusan laju reaksi dapat kita definisikan sebagai:
berkurangnya jumlah pereaksi (konsentrasi pereaksi) per satuan waktu, atau : dengan r = laju reaksi, – d[R] = berkurangnya reaktan (pereaksi), dan dt = perubahan waktu. Untuk reaksi : A  B, laju berkurangnya zat A adalah : 
B. bertambahnya jumlah produk (konsentrasi produk) per satuan waktu, atau :
dengan +Δ[P] = bertambahnya konsentrasi produk (hasil reaksi). Untuk reaksi : A  B, laju bertambahnya zat B adalah :
Bagaimana untuk reaksi yang lebih kompleks, semisal : pA + qB → rC.

Untuk reaksi demikian, maka :

 

Persamaan Laju reaksi dan orde reaksi

Pada umumnya hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi zat-zat pereaksi hanya diturunkan dari data eksperimen. Bilangan pangkat yang menyatakan hubungan konsentrasi zat pereaksi dengan laju reaksi disebut orde reaksi.
Untuk reaksi a A + b B—> c C + d D, Persamaan laju reaksi ditulis:
r=k[A]m.[B]n 
r = laju reaksi

k = tetapan laju reaksi

[A] = konsentrasi zat A dalam mol per liter

[B] = konsentrasi zat B dalam mol per liter

m = orde reaksi terhadap zat A

n = orde reaksi terhadap zat B

Beberapa contoh reaksi dan rumus laju reaksi yang diperoleh dari hasil eksperimen dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel : Contoh beberapa reaksi dan rumus laju reaksinya

 
Orde reaksi dapat ditentukan dari persamaan laju reaksi. Misalnya, pada reaksi
 
dengan persamaan laju reaksi
 
orde reaksi terhadap H2 = orde satu, orde reaksi terhadap NO = orde dua, dan orde reaksi total adalah tiga. Untuk lebih memahami cara menentukan orde reaksi dan rumus laju reaksi Orde reaksi dapat juga ditentukan melalui kecenderungan dari data suatu percobaan yang digambarkan dengan grafik. Berikut ini dijelaskan penentuan orde reaksi melalui grafik. 

Faktor Faktor yang mempengaruhi Laju reaksi

Suatu laju reaksi kimia dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni konsentrasi kadar zat, luas permukaan sentuh, tekanan, suhu dan pengaruh katalis. berikut inilah ulasan tentang faktor tersebut dan bagaimana faktor tersebut dapat mempengaruhi laju reaksi.
  • Konsentrasi

 Hal ini mewakili banyaknya zat yang bereaksi, untuk jumlah partikel atau zat pereaksi sangat sekali mempengaruhi besar tumbukan dalam reaksi sehingga merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan terjadinya laju reaksi. Sebab semakin besar konsentrasi maka semakin pula banyak zat yang bereaksi dan semakin besar kemungkinan terjadinya tumbukan.

  • Luas Permukaan

 Luas permukaan merupakan salah satu syarat agar reaksi dapat berlangsung ialah zat-zat pereaksi harus bercampur dan saling bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran yang disebut bidang sentuh. Reaksi kimia akan berlangsung sangat cepat apabila luas permukaan atau bidang sentuhnya lebih luas pula. Karena semakin luas permukaan maka semakin cepat pula laju reaksinya, malah sebaliknya semakin kecil luas permukaan maka semakin kecil laju reaksinya.

  • Pengaruh Tekanan

 Pengaruh tekanan akan terlihat pada reaksi kimia yang melibatkan pereaksi berupa gas, peningkatan tekanan pada reaksi yang melibatkan pereaksi gas akan meningkatkan laju reaksi, pengaruh ini tidak akan terlihat pada reaksi yang melibatkan zat padat dan zat cair.

  • Pengaruh Suhu

 Pada saat kondisi suhu yang tinggi, energi molekul bertambah sehingga laju molekul juga semakin bertambah, meningkatnya laju molekul memungkinkan reaksi berlangsung dengan secara cepat, jadi bila semakin tinggi suhu semakin besar juga laju reaksinya.

  • Katalis

Dalam ilmu kimia dikenal dengan dua Zat yang sangat mempengaruhi laju reaksi yakni katalis dan inhibitor, katalis merupakan zat yang dapat mempercepat laju reaksi sedangkan inhibitor ialah zat yang dapat menghambat laju reaksi. Reaksi kimia yang lambat dapat dipercepat dengan menambahkan katalis, katalis akan ikut dalam proses reaksi tetapi tidak mempengaruhi hasil reaksi melainkan hanya mempercepat lajunya. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi.

Contoh Soal dan Pembahasan Laju reaksi

berikut dibawah ini adalah contoh contoh soal dan pembahasannya tentang laju reaksi kimia

1. Apakah yang dimaksud dengan laju reaksi bila dikaitkan dengan
a.  Keadaan zat reaktan ?
b.  Keadaan zat hasil reaksi ?

Jawab :
a)  Laju reaksi adalah laju berkurangnya konsentrasi pereaksi tiap satuan waktu
b)  Laju reaksi adalah laju bertambahnya konsentrasi produk tiap satuan waktu

2.  Apakah yang dimaksud laju reaksi tingkat nol ?

Jawab : reaksi berorde nol artinya laju reaksi tidak dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi reaktan (pereaksi)

3.  Jika terdapat reaksi :
     A (g) + 2B (g) à AB2 (g)
Tuliskan rumus laju reaksi (v) yang mungkin !

Jawab : rumus laju reaksi (v) yang mungkin adalah v = k [A] [B]2

4.  Sebutkan tiga cara untuk mempercepat reaksi antara zink dengan larutan asam sulfat !

Jawab : Zn (s) + H2SO4 (aq) à ZnSO4 (aq) +H2 (g)
a.  Memperbanyak dan memperkecil ukuran Zn
b.  Memanaskan asam
c.  Menambah larutan CuSO4
d.  Memisahkan H2

5.  Dalam volum 10 L pada suhu tertentu, 0,2 mol gas N2O4 terurai sehingga menjadi gas NO dan gas O2 menurut reaksi :
     N2O4 (g) à 2NO (g) + O2 (g)
Jika dalam waktu 5 detik dalam ruang tersebut terbentuk 0,4 mol gas NO, tentukan laju reaksi dari persamaan diatas !

Jawab :      N2O4 (g) à 2NO (g) + O2 (g)
Mula-mula    0,2 mol
Reaksi
Sisa                  0,4 mol

V N2O4 = konsentrasi N2O4                  konsentrasi N2O4 = 0,2 mol = 0,02 M
           Waktu                                   10 L
V N2O4 = 0,02 M = 0,004 M/s
         5 s

6.  Diketahui reaksi :
     A (g) + B (g) à C (g)
Jika laju pembentukan C adalah 4,8 x 10-3 M/s, berapa laju reaksi terhadap A ?

Jawab : v C = 4,8 x 10-3 M/s maka v A = 4,8 x 10-3 M/s
       Karena perbandingan koefisien = perbandingan laju reaksi

7.  Buatlah diagram laju reaksi :
     2NO (g) + O2 (g) à N2O4 (g)

Jawab :  orde NO adalah 1 dan orde O2 adalah 0. Sehingga, orde totalnya menjadi 1