Kali ini kita akan membahas sebuah materi pembelajaran kimia tingkat SMA/SMK/MA kelas 8 kurikulum 2013 revisi 2017 2018 yaitu tentang titrasi asam basa, adapun yang akan kita bahas yaitu rangkuman pengertian titrasi, cara menentukan kadar asam cuka, fungsi, tujuan, jenis jenis titrasi, rumus, perubahan pH dan contoh soal beserta jawabannya tentang titrasi asam basa. Semoga dapat membantu
Titrasi Asam Basa
Pengertian Titrasi Asam Basa
Sebelum kita bahas mengenai titrasi asam basa mari kita kebelakang terlebih dahulu, dimana sebenarnya titrasi terbagi menjadi 3 yaitu titrasi asam basa pengendapan dan redoks, nah pengertian dari titrasi sendiri adalah prosedur menetapkan kadar suatu larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain yang telah diketahui kadarnya (larutan standar) secara bertahap.
Cara menentukan kadar asam cuka, yaitu dengan metode titrasi asam basa
Pengertian titrasi asam basa adalah penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan asam yang diketahui kadarnya atau sebaliknya, kadar suatu larutan asam dengan larutan basa yang diketahui, dengan didasarkan pada reaksi netralisasi.
Titrasi harus dilakukan hingga mencapai titik ekivalen, titik ekivalen adalah keadaan di mana asam dan basa tepat habis bereaksi secara stoikiometri.
Titik ekivalen umumnya dapat ditandai dengan perubahan warna dari indikator. Keadaan dimana titrasi harus dihentikan tepat pada saat indikator menunjukkan perubahan warna disebut titik akhir titrasi. Jadi, untuk memperoleh hasil titrasi yang tepat maka selisih antara titik akhir titrasi dengan titik ekivalen harus diusahakan seminimal mungkin.
Hal ini dapat diupayakan dengan memilih indikator yang tepat pada saat titrasi, yakni indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen.
Fungsi Titrasi
Fungsi indikator dalam proses titrasi adalah untuk menentukan titik ekivalen ketika dua larutan telah mencapai netralisasi. Indikator sendiri dapat berupa internal maupun eksternal.
Indikator internal dicampur dengan reaktan dan biasanya menyediakan tampilan visual segera. Sedangkan indikator eksternal adalah alat elektrokimia.
Tujuan Titrasi
Tujuan melakukan titrasi asam basa adalah antara lain:
- Menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa dengan menggunakan titrasi asam-basa
- Mengetahui titik ekuivalen dan titik akhir titrasi-basa
- Mengetahui penetralan asam basa dengan metode titrasi
Jenis Jenis Titrasi
Seperti yang telah kita singgung diawal, titrasi terbagi menjadi 3 yaitu titrasi asam basa, titrasi pengendapan atau argentometri, dan titrasi redoks.
Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa yaitu penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan asam yang diketahui kadarnya atau sebaliknya, kadar suatu larutan asam dengan larutan basa yang diketahui, dengan didasarkan pada reaksi netralisasi.
Titrasi Pengendapan (argentometri)
Prinsip umumnya titrasi pengendapan adalah mengenai kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan dari reagen-reagen yang bereaksi.
Secara umum, metode titrasi argentometri terbagi menjadi tiga macam. yaitu:
- Metode Mohr.
Pada metode ini tidak ada indikator yang digunakan. Sehingga untuk menandai titik akhir titrasi adalah tingkat kekeruhan dari larutan sampel. Ketika larutan standar telah mengalami reaksi stoikiometris dengan larutan sampel, maka ml larutan standar berikutnya yang menetes pada larutan sampel akan menghasilkan endapan karena larutan hasil reaksi titrasi telah jenuh. Namun, dapat juga digunakan indikator yang dapat bereaksi dengan kelebihan larutan standar dan membentuk endapan dengan warna yang berbeda dari endapan reaksi utama.
- Metode Volhard.
Metode ini menggunakan indikator yang akan bereaksi dengan kelebihan larutan standar membentuk ion kompleks dengan warna tertentu.
- Metode Fajans.
Metode ini menggunakan indikator adsorpsi. Endapan yang terbentuk dari reaksi utama dapat menyerap indikator adsorpsi pada permukaannya sehingga endapan tersebut terlihat berwarna.
Titrasi Redoks
Titrasi Redoks adalah Semula istilah “oksidasi” yang diterapkan pada reaksi suatu senyawa yang bergabung dengan oksigen dan istilah “reduksi” digunakan untuk menggambarkan reaksi dimana oksigen diambil dari suatu senyawa.
Rumus Titrasi
Rumus titrasi pada umumnya adalah Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa, maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan volume, maka rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut :
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi :
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa)
Perubahan Ph
Pada saat larutan basa ditetesi dengan larutan asam, pH larutan akan turun dan sebaliknya, jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik.
Jika pH larutan asam atau basa diplotkan sebagai fungsi dari volum larutan basa atau asam yang diteteskan, maka akan diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi.
Kurva titrasi menunjukkan perubahan pH larutan selama proses titrasi asam dengan basa atau sebaliknya. Bentuk kurva titrasi memiliki karakteristik tertentu yang bergantung pada kekuatan dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi.
Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Contohnya adalah, 40 mL larutan HCl 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut.
![]() |
| Kurva titrasi asam basa: HCl dengan NaOH. |
Dari kurva diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
- Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit
- Perubahan pH drastis terjadi sekitar titik ekivalen
- Indikator yang dapat digunakan: metil merah, bromtimol biru, atau fenolftalein. Namun, yang lebih sering digunakan adalah fenolftalein karena perubahan warna fenolftalein yang lebih mudah diamati.
- pH titik ekivalen = 7 (netral)
Titrasi asam lemah dengan basa kuat
Contohnya yaitu 40 mL larutan CH3COOH 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi berwarna biru yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut dibandingkan dengan kurva titrasi HCl dengan NaOH yang berwarna merah.
![]() |
| Kurva titrasi CH3COOH dengan NaOH dan titrasi HCl dengan NaOH |
Dari kurva diatas dapat kita simpulkan bahwa:
- Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen lebih kecil, hanya sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±10
- Titik ekivalen berada di atas pH 7, yaitu antara 8 – 9
- Indikator yang digunakan: fenolftalein. Metil merah tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh sebelum tercapai titik ekivalen.
Titrasi basa lemah dengan asam kuat
Contohnya adalah 40 mL larutan NH3 0,1 M ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut ditampilkan kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut
![]() |
| Kurva titrasi NH3 dengan HCl |
Dari kurva diatas dapat kita simpulkan, bahwa:
- Titik ekivalen berada di bawah pH 7, yaitu antara 5 – 6
- Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen hanya sedikit, sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±4
- Indikator yang digunakan: metil merah. Fenolftalein tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh sebelum tercapai titik ekivalen.



